5.1.17

Manajemen Konflik dan Kretifitas Organisasi

Download (Doc)



Dalam bab ini kita akan menguraikan bagaimana konflik dalam organisasi dapat dikelolah secara efektif dan bagaimana pembaharuan serta kreativitas dapat dikembangkan.
Konflik, kompetisi, dan kerjasama  ( conflict, competition, and cooperation )
Konflik organisasi ( organization conflict ) adalah perbedaan pendapat antara dua atau lebih banyak anggota organisasi  atau kelompok, karena harus membagi sumber daya yang langka, atau aktivitas kerja dan/atau karena mereka mempunyai status, tujuan, penilaian dan pandangan yang berbeda.
Salah satu kesukaran semantis yang bersangkutan dengan konflik organisasi ialah perbedaan antara konflik dan persaingan kompetisi. Kita dapat membedakan kedua istilah itu atas dasar apakah salah satu pihak dapat mencegah pihak lain mencapai tujuannya. Kompetisi tejadi, apabila tujuan kedua pihak yang saling berhadapan tidak sesuai , akan tetapi pihak-pihak yang bersangkutan tidak dapat mencsmuri usaha pihak lain.
Kerjasama ( cooperation ) terbina apabila dua atau lebih banyak pihak bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Ada kemungkinan, bahwa konflik dan kerjasama dapat berdampingan ( co exist ).
Konflik fungsional dan disfungsional ( functional and dysfunctional conflict )
Seperti yang telah kita rumuskan, konflik secara inheren bukan fungsional dan bukan pula disfungsional, melainkan memiliki kemungkinan untuk memperbaiki atau memperlemah prestasi organisasi tergantung kepada cara pengelolaanya. Umpamanya, seorang manajer perusahaan terlibat dalam konflik mengenai bagaimana caranya membagi-bagikan anggaran tahunan diantara devisi-devisi perusahaan itu.
Jenis-jenis konflik ( types of conflict )
1.      Konflik didalam individu ( conflict within the individual ) adalah kasus khusus yang tidak tidak dimasukan kedalam  perumusan kita yang pertama mengenai konflik.
2.      Konflik antara individu ( conflict between individuals ) adalah didalam organisasi yang itu juga kerapkali dianggap sebagai personalitas ( kepribadian  ) yang berbeda.
3.      Konflik antara individu dan kelompok ( conflict between individual and group ) adalah seringkali bertalian dngan cara individu menanggapi tekanan tentang kesamaan ( conformity ) yang dilakukan kelompok kerja terhadapnya.
4.      Konflik anatara organisasi ( conflict between organizations ) adalah dipandang sebagai bentuk konflik yang inheren dan disukai dalam peekonomian AS dan banyak lainya, setidak-tidaknya jika konflik itu terbatas kepada kompetisi ekonomi.

Sumber-sumber konflik organisasi ( sources of organizational )
Sumber-sumber utama konflik organisasi terdiri dari 3 hal yakni : keharusan untuk membagi-bagi sumber-daya yang langka ; tujuan yang berbeda antara unit-unit organisasi; saling ketergantungan aktivitas kerja di dalam organisasi dan perbedaan dalam penilaian dan pandangan ( perceptions ) antara unit-unit organisasi.
Pembagian sumber-daya ( Shared Resources )
Jika tiap-tiap unit di dalam organisasi memiliki tan pa terbatas tenaga kerja, uang, material, perlengkapan dan ruangan, maka masalah bagaimana caranya membagi-bagi sumber-sumber ini dapat dikatakan tidak ada. Akan tetapi kemungkinan yang dapat menimbulkan konflik ada, karena sumber-sumber yang vital itu hanya terbatas.
Perbedaan Dalam Tujuan ( Dfferences in Goals )
Diferensiasi semacam  ini kerapkali menimbulakan konflik tentang kepentingan atau prioritas, juga apabila tujuan menyeluruh ( overall ) organisasi yang disepakati. Misalnya departemen penjualan menghendaki harga yang rendah untuk menarik lebih banyak pelanggan, akan tetapi departemen produksi menginginkan harga yang lebih tinggi untuk menutupi biaya produksi.
Ketergantungan aktivitas kerja ( Interdependence of Work Activities )
Jika dua atau lebih sub-unit tergantung kepada satu sama lain dalam menyelesaikan tugasnya masing-masing , terdapatlah apa yang dinamakan saling ketergantungan ( respective task ) .Dalam hal sedemikian ini, kemungkinan akan timbulnya konflik tingkat tinggi atau kerjasama tergantung kepada cara penangan situasinya.
Perbedaan dalam Penilaian atau Pandangan ( differences n values or perceptions )
Perbedaan dalam tujuan antara para anggota pelbagai unit didalam organisasi seringkali disertai dengan perbedaan dalam sikap, penilaian dan pandangan, sehingga dapat menimbulkan juga konflik. Umpamanya, supervisor garis pertama ( first-line supervisor ) yang harus mengusahakan, agar pengiriman barang dapat dilaksanakan dalam waktu yag singkat

Sumber-sumber Konflik Lainnya: Gaya Individu dan Ambiguitas Organisasi ( Individual Styles and Organizational Ambiguities ).
Ada orang yang menyukai debat, dan argument; jika dapat tetap dikendalikan, maka perselisihan yang ringan dapat memberikan dorongan ( stimulate ) kepada anggota-anggota organisasi untuk memperbaiki  prestasi mereka.

Dinamika dan Konsekuensi Konflik Organisasi ( dynamics and consequences of organizational conflict )
Dalam studi klasik mengenai konflik antar kelompok, Muzafer dan Carolyn Sherif beserta rekan-rekannya membagi sebuah camp anak-anak remaja dalam dua kelompok , membangkitkan konflik yang sengit antara kedua kelompok itu, lalu meneliti perubahan-perubahan yang terjadi dalam perilaku kedua kelompok tersebut. Hasil-hasil studi mereka sejak itu dibenarkan oleh para sarjana lainnya dan kini terdapat kemungkinan untuk menunjukan, bahwa kedua kelompok yang ditempatkan dalam situasi konflik mengalami perubahan yang dibentuknya dapat diramalkan.
1.      Mempererat hubungan ( increased cohesion ). Biasanya, para anggota kelompok yang menghadapi situasi konflik, mempererat hubungan dan menyampingkan perselisihan mereka.
2.      Munculnya pemimpin ( rise of leaders ). Apabila konflik menjadi sengit, individu dalam kelompok yang paling banyak membantu untuk mencapai kemenangan, menjadi lebih penting kedudukannya.
3.      Pandangan yang sesat ( distorted perceptions ). Pandangan kelompok itu sendiri dan kelompok lawannya menjadi sesat, karena menganggap ketrampilan dan prestasi mereka sendiri lebih unggul atau ( superior ) daripada kelompok lainnya.
4.      Peningkatan dalam sterotipe yang negative ( increase in negative stereotypes ). Karena masing-masing pihak saling meremehkan satu sama lainnya, maka perbedaan antara kelompok-kelompok itu dipandang lebih besar daripada sebenarnya, sedangkan perbedaan didalam kelompok itu sendiri dianggap lebih kecil.
5.      Memilih wakil yang kuat ( selection of strong reresentives ). Untuk menghadapi pihak lain, masing-masing kelompok memilih wakilnya yang mereka percayai tidak akan tunduk terhadap tekanan-tekanan kelompok saingannya.
6.      Membutakan pandangan ( development of “blind spot “ ). Perjungan persaingan sangat memperkecil kemampuan pesaing untuk menyadari dan berpikir secara cermat mengenai kedudukan masing-masing.

 Dinamika konflik perselisihan sampai kepada antagonisme (permusuhan)

Meskipun sumber-sumbernya berlainan, namun kontroversi dalam organisasi     berkembang secara hebat melalui jalan yang sama.
Jika konflik itu dikelola dengan buruk, maka masalah khusus yang mencetuskan konflik akan membuka jalan bagi munculnya lebih banyak masalah-masalah umum.
            Sementara konflik menajam, masalah baru yang kerapkali tidak berhubungan dengan persoalan semula tampak ke muka. Subyek yang tadinya sudah di kubur kini tampil lagi dan masalah baru diajukan untuk meyakinkan kepada mereka yang sebegitu jauh belum mempunyai komitmen, agar turut serta dalam perselisihan.

Konsekuensi fungsional dan disfungsional (functional dan dys-functional consequences)
Sekali konflik telah berakhir, maka bagi pemenang dan yang kalah ada perbedaan konsekuensinya. Para pemimpin kelompok yang menang biasanya memperkuat kepemimpinannya atas kelompok itu.
Sebaliknya, kelompok yang kalah cenderung untuk pecah dalam fraksi-fraksi, karena para pemimpin yang lama menghadapi tantangan dari calon-calon pemimpin yang baru.
            Tiga factor menentukan apakah kesudahan suatu konflik akan fungsional atau tidak; tingkat konflik, struktur organisasi dan suasana serta caranya konflik itu di kelola.



Tingkat konflik ( The Level of Conflict )
Tingkat konflik yang moderat mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar untuk membawakan hasil-hasil yang diinginkan daripada yang tinggi tingktannya. Dalam konflik yang moderat, kelompok-kelompok  yang saling berselisih akan dapat lebih banyak belajar bagaimana berinteraksi dengan cara konstruktif dan yang dapat memecahkan masalah.